BAKTERI baik dan jahat hidup dalam keseimbangan di dalam tubuh. Apabila keseimbangan terganggu, akibatnya kesehatan seseorang menjadi terganggu. Jika keadaan flora di dalam usus stabil, jumlah antara bakteri baik dan bakteri jahat dalam keadaan seimbang.
Bakteri jahat akan mengeluarkan racun yang bisa menyebabkan diare dan mengeluarkan enzim yang mendorong terbentuknya senyawa karsinogenik dalam saluran pencernaan. Sebaliknya, bakteri baik akan menghasilkan antibiotika alami yang membantu keutuhan mukosa usus, proses metabolisme, dan meningkatkan kekebalan tubuh. "Keseimbangan antara bakteri jahat dan bakteri baik membantu pencernaan. Akibatnya, risiko infeksi pencernaan bisa berkurang dan meminimalisasi risiko diare dan sembelit," ujar Medical Council of Asian Pacific Society of Gastroenterology Thailand Prof Emeritus Wandee Varavithya dalam seminar internasional bertajuk "Probiotics for Optimum Health" di Institut Pertanian Bogor, pekan lalu.
Apabila jumlah bakteri tidak berimbang, dalam arti bakteri jahat lebih dominan, maka perut rentan terhadap infeksi hingga menyebabkan perut terasa mual. Data menunjukkan, angka kejadian gangguan usus ini terus meningkat di seluruh dunia.
Salah satunya akibat perubahan gaya hidup. Menurut Varavithya, gaya hidup, khususnya pola makan yang kini dianut cenderung mengurangi konsumsi makanan berserat. Kondisi ini dianggap sebagai salah satu pemicu terjadinya gangguan pencernaan. Di samping itu, penggunaan obat-obat pencahar juga turut memberi kontribusi terhadap gangguan pencernaan. Faktor lain yang turut menjadi penyebab adalah kemoterapi, radiasi, stres, dan perubahan iklim. Transit usus yang lambat telah menjadi masalah umum, terutama pada perempuan dan orangtua.
Jika dibiarkan tanpa penanganan, dampak jangka panjangnya bisa menyebabkan kanker kolon atau kanker usus besar. Ketua Program Studi Ilmu Pangan Program Pascasarjana IPB Prof Dr Ir Betty Sri Laksmi Jenie mengungkapkan,sampai saat ini penyebab kanker kolon belum diketahui secara pasti. Meski demikian, ada beberapa faktor yang diduga memperkuat risiko mengalami penyakit tersebut. "Pola makan yang salah turut memicu kanker kolon karena terhambatnya sistem pembuangan di dalam usus dan mendorong timbulnya senyawakarsinogenik dalam tubuh yang berpotensi mengakibatkan kanker," tutur Betty.
Nah,suatu penelitian mengenai susu fermentasi dengan kandungan Bifidobacterium animalis DN-173 010 menunjukkan susu jenis ini terbukti memiliki manfaat bagi kesehatan.
"Mengonsumsi susu fermentasi dengan kandungan Bifidobacterium animalis DN-173 010 secara rutin selama 14 hari, terbukti dapat menormalkan waktu transit pada tubuh manusia hingga 21-50 persen, lebih baik dibandingkan mengonsumsi susu fermentasi dengan kandungan bakteri lain," kata Kepala Peneliti Danone International Institute Perancis Dr Jean Michel Antoine. Bifidobacterium animalis adalah salah satu contoh probiotik-mikro-organisme hidup, atau yang lebih dikenal dengan nama bakteri baik-yang berfungsi untuk melancarkan transit.
Bifidobacterium animalis DN-173 010 menunjukkan kemampuan tinggi untuk tetap hidup (survive) dalam sistem pencernaan dan memberikan dampak yang menguntungkan bagi kesehatan di dalam kolon. Bahkan, bakteri jenis ini menunjukkan kemampuan tinggi untuk tetap hidup walau telah melalui proses pemanasan dengan suhu tinggi. Dekan Fakultas Ekologi Manusia dari Institut Pertanian Bogor ProfDr Ir Hardinsyah MS mengatakan, probiotik mampu mengeluarkan toksin dan menghambat bakteri. "Probiotik mampu meningkatkan kesehatan secara keseluruhan karena kemampuannya mengeluarkan toksin, menghambat bakteri, dan meningkatkan imunitas, serta membantu penyerapan," papar Hardinsyah.
(sindo/)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar
Postinglah dengan komentar yang bersifat "membangun".Thanks^^