Saya duduk di samping Paul, tanpa bersuara mendengarkan dia yang sedang mencurahkan kemarahan, kebencian dan kebutuhannya. Setelah proses curhat dan mendengarkan ini selesai, maka kesengsaraan yang berada di antara kami berdua sepertinya telah menguap pergi, ini benar-benar merupakan awal yang baru.
Ketika saya menghampiri kotak surat yang berada di luar rumah, beberapa tetes air hujan jatuh di atas wajah saya, juga jatuh ke dalam hati saya.
Pagi hari ini baru saja bangun dari tempat tidur, saya sudah mengalami terpaan badai, badai tersebut berawal dari pertengkaran dengan anak saya Paul. Dia ingin mengenakan kaus olaraga lama yang sudah pudar warnanya pergi ke sekolah, tetapi saya ingin dia mengenakan pakaian mahal pemberian neneknya. Di atas saku pakaian itu terbordir huruf “P” , inisial namanya, sambil menunjuk huruf itu, saya katakan, “Tidak semua pakaian orang dapat tertera huruf depan namanya sendiri.”
Dengan tidak rela dia memandang ke atas langit-langit rumah sambil berkata, “Ma, jaman sekarang tidak ada orang yang memakai pakaian dengan bordiran huruf depan namanya!”
Dengan sangat cepat kita berdua lalu terlibat dalam pertengkaran, kami berdua sama-sama mengeluarkan kata-kata yang melewati batas, akhirnya dengan tidak rela dia mengenakan pakaian itu.
Ketika dia mengambil buku, saya menjulurkan tangan untuk memberinya sebuah rangkulan, tetapi dia menghindar dengan mundur satu langkah. Sebenarnya, semenjak Paul memasuki masa puber, dari awal hingga akhir saya tidak tahu harus bagaimana menghadapinya. Diaadalah seorang anak yang baik, tetapi belakangan dia selalu meragukan setiap kata yang saya ucapkan, sepertinya sedang dengan sengaja menguji kesabaran saya. Setelah mengalami begitu banyak perseteruan dan pertengkaran, saya sudah siap-siap mengangkat tangan untuk menyerah.
***
Sambil menghela nafas saya berjalan menuju ke kotak surat, kelihatannya dia juga sama seperti saya yang kenyang dengan kegagalan. Kotak surat itu pernah ditabrak oleh mobil, hingga penyanggahnya bengkok, dan pintu kotak tidak bisa ditutup.Saya menjulurkan tangan ke dalam kotak, kecuali setumpuk surat, saya masih meraba setumpuk benda aneh. Melongok ke dalam kotak, saya melihat ternyata di bawah surat-surat itu masih terdapat setumpuk rumput dan daun tusam yang berbentuk seperti jarum. Saya kira, pasti ada orang yang sedang mengerjai, maka sambil lalu benda-benda itu saya bersihkan.
Sore hari setiap pulang dari sekolah, Paul selalu bagaikan angin, yang akan menyelinap masuk ke dalam kamarnya dan tidak keluar lagi.
“Bagaimana sekolah hari ini?” saya berkata sambil mengikuti dirinya dari belakang, sebisanya berpura-pura lupa akan pertengkarandiantara kami pagi tadi.
“Lumayan” sambil berkata dia melepaskan pakaian, lalu dilemparkan ke bawah kaki saya bagaikan sedang menantang, kemudian dia membalik pakaian-pakaian yang ada dalam lemari mencari kaos olahraganya. Saya membalikkan badan bermaksud meninggalkan dia pergi, tetapi masih menengok ke belakang sambil berkata, “Daun tusam yang ada di dalam kotak surat apakah kamu yang meletakkannya?”
Dia memandang saya dengan pandangan tidak mengerti, “Apa Ma?”
“Oh, tidak apa-apa” sahut saya.
Keesokan harinya saya memeriksa lagi kotak surat itu, di dalamnya ada beberapa daun tusam, ranting pohon yang kecil-kecil dan dua helai rumput yang sudah kering. Setiap hari saya selalu menemukan setumpuk rumput-rumputan yang serupa di dalam kotak surat, dan setiap hari pula akan saya keluarkan sejumlah rerumputan itu. Saya tidak membicarakan hal ini lagi kepada Paul, sebenarnya saya sudah tidak mendiskusikan masalah apa pun juga dengan dirinya. Setiap kali terjadi bentrokan, saya akan meninggalkan kamar atau mengalihkan topik pembicaraan.
Akhir pekan lalu, ketika saya sedang membaca koran di ruang baca, Paul masuk dan bertanya, “Ma, bolehkah saya pergi nonton bioskop?”
Saya membalik halaman koran yang memuat iklan bioskop, film yang akan ditonton itu termasuk katagori PG-13, artinya anak yang berumur di bawah 13 tahun harus didampingi oleh orang tuanya untuk menonton. Saya memandang ke arah anak saya yang baru saja genap13 tahun, berkata, “Tidak, untuk film ini tidak boleh.”
“Apakah tidak ada kemungkinan untuk kita bicarakan lagi?” Dia memohon.
“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi” Saya berkata, “Jika dilanjutkan maka niscaya akan berakhir dengan pertengkaran.”
“Ma, mama tidak memahami saya” Dia menangis, “Mama bahkan tidak pernah mau mencoba untuk memahami saya!”
***
Seperti biasa, pagi itu saya pergi mengambil surat; di dalam kotak surat masih ada setumpuk benda yang kacau balau, sungguh membuat orang emosi. Saya menjulurkan tangan untuk mengambil benda-benda di dalam kotak pos. Di antara rerumputan dan ranting-ranting pohon, saya mendapatkan suatu benda bulat kecil, yang ternyata adalah sebutir telur burung.
Dari atas pohon yang tumbuh di dekat kotak pos terdengar suara kicauan burung, saya menengok ke arah datangnya suara, di sana terlihat seekor induk burung sedang berada di atas dahan, dengan mulut sedang menggigit daun tusam. Oh, ternyata dialah yang setiap hari membangun sarang di dalam kotak surat yang sudah rusak itu. Setiap kali begitu mendapatkan bahwa jerih payahnya telah rusak, dia tidak putus asa, dan akan selalu membangun kembali dengan keterikatan. Mau tidak mau saya jadi teringat akan ucapan Paul, “Mama bahkan tidak pernah mau untuk mencoba!”
Anak saya sedang duduk di depan meja belajar, memutar-mutar bola dunia tanpa tujuan.
“Hai,” saya menyapanya.
Dia mengangkat kepala memandang ke arah saya, dalam sekejab dari sosok pria kecil yang mudah terluka ini, saya seakan-akan melihat seorang pemuda yang segera akan terbentuk.
“Apakah engkau ingin berbicara sesuatu?” Saya menanyainya, “Mama pasti akan mendengarkannya dengan seksama.” lanjutku lagi.
Saya duduk di samping Paul, dengan tanpa bersuara mendengarkan dia yang sedang mencurahkan kemarahan, kebencian dan kebutuhannya. Setelah proses curhat dan mendengarkan ini selesai, maka kesengsaraan yang berada di antara kami berdua sepertinya telah menguap pergi, ini benar-benar merupakan awal yang baru.
Dari dalam lubuk hati yang terdalam, saya benar-benar berterima kasih kepada induk burung yang demi cinta kasih telah berjuang tanpa kenal menyerah. Saya kemudian menuliskan satu pengumuman di atas secarik kertas dan menempelkannya pada kotak surat itu, bunyinya demikian, “Pak Pos yang baik, seekor burung telah membuat sarang di sini. Sebelum telur burung ini menetas dan burung ituterbang pergi, bolehkah meminta Anda untuk meletakkan surat-surat yang ada di depan pintu rumah?”
Tak lama, di dalam kotak surat bertambah lagi 3 ekor burung kecil, setiap hari induk burung akan berdiri di atas kotak surat sambil bernyanyi. Nyanyiannya sangat merdu, penuh dengan rasa ikatan cinta yang tak akan dilepas untuk selamanya.(The Epoch Times/lin)
erabaru.net
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar
Postinglah dengan komentar yang bersifat "membangun".Thanks^^