Adat Bangka "Perang Ketupat"

Perang ketupat dan Taber Kampung adalah salah satu warisan budaya penduduk asli Tempilang dan sudah dilakukan secara turun temurun. Tidak ada yang tahu dengan jelas asal mulanya tradisi ini.

Menurut sumber masyarakat setempat,tradisi ini sudah ada semasa Orang Bangka memeluk agama, tapi ada juga yang mengatakan tradisi ini sudah berlangsung bersamaan dengan meletusnya Gunung Krakatau tahun 1883.

Perang Ketupat dan Taber Kampung ini dilaksanakan bertepatan dengan sedekah ruah pada bulan Sya'ban untuk menyambut bulan Ramadhan. Acara ini dilaksanakan di Pantai Pasir Kuning yang jaraknya lebih kurang 2km dari kampung dan diperkirakan tradisi ritual ini menarik sekitar 30.000 pengunjung dari berbagai pelosok setiap tahunnya.

Tempat sesajen dan isinya kemudian dibacakan jampi-jampi dan mantera dari sang dukun. Dukun juga meminta agar sesajen yang sudah diberi mantra itu dijaga oleh masyarakat sepanjang jalan. Keesokan harinya pada saat upacara puncak dimulai sambil diiringi gendang dengan irama tertentu, para pawang memulai upacaranya dengan mendatangi rumah penduduk satu persatu sambil memercikkan air ketangga setiap rumah penduduk. Begitu selesai sesajen disandingkan dan dibawa ketempat upacara perang ketupat ditepi pantai pasir kuning.

Perang Ketupat sebagai acara utama dimulai pukul 09.00 hingga selesai dan disaksikan puluhan ribu pasang mata. Para pawang bersama-sama mengucapkan mantra-mantra untuk memanggil roh mahkluk halus penguasa laut. Ketika pawang merasa roh yang di panggilnya datang dan berkumpul,ia meminta segera ditampilkan tarian khas Bangka diantaranya Tari Burung Kedidi, Tari Serimbang dan Tari Ganjak-Ganjur yang di bawakan 6 gadis penari. Bila acara ini telah dimulai, pertanda penguasa laut dan darat sedang menikmati acara pesta pora sambil menghadapi sesajen yang di suguhkan para dukun.

Begitu selesai para dukun tadi segera mengumpulkan 100 ketupat sebagai alat perang dan symbol pecahnya peperangan antara penguasa laut dan penguasa darat. Lalu pawang meminta hadir 100 pemuda yang bertindak sebagai wakil mahkluk penguasa darat. ke seratus pemuda itu saling melempar ketupat dalam sorak sorai ribuan penonton. Perang dianggap selesai setelah ketupat terlempar semua yang menandakan mahkluk jahat menyerah kalah dan menjauh. Dan sebagai symbol tidak lagi mengganggu ketentraman masyarakat desa Tempilang. Setelah perang usai pawang menyampaikan pesan dan nasihat kepada masyarakat ,meminta agar penduduk tidak boleh berkelahi satu sama lain,tidak boleh berkerudung kain sambil bersiul di tengah kampung,menjemur kain di pagar rumah,memukul kain ke air sungai dan mencuci kelambu di sungai. Nasihat pawang mengandung makna agar masyarakat saling menghormati,damai serta menjaga ketentraman masyarakat kampung. Pesan juga memuat isyarat agar lingkungan senantiasa dijaga dan kita dituntut menjunjung adat,berdisiplin dan saling menghormati.

Hari-hari upacara perang ketupat ini dimulai,kampung tempilang mempersiapkan diri seperti hari raya dan ada perayaan besar. Setiap rumah menyediakan berbagai hidangan untuk siapa saja yang ngin mencoba dan setiap tamu dihormati dan penduduk juga menyediakan tempat bagi siapa saja yang ingin bermalam dirumahnya. Bersamaan dengan itu sepanjang kampung dibuka pasar malam dan menggelar berbagai macam hiburan. Ratusan penjual makanan dan barang keperluan sehari-hari juga menggelar dagangannya selama beberapa hari disini.


0 komentar:

Posting Komentar

Postinglah dengan komentar yang bersifat "membangun".Thanks^^