Rumah Sempit

Alkisah ada seseorang bernama Saipul mengeluh kepada Pak Tua, orang yang dianggap bijaksana di kampungnya. Ia mengeluh karena rumahnya yang sangat sempit. Ia bersama keluarganya tidak nyaman tinggal dirumahnya.


Kemudian Pak Tua itu bertanya, "Baiklah, mudah-mudahan saya bisa mengatasi permasalahan kamu, akan tetapi ada dua syaratnya, yang pertama ikuti segala perintah saya, yang kedua jangan bertanya dan protes terhadap apa yang saya perintahkan. Bagaimana sepakat?" Sejenak Abdul berfikir, "hmm.....baiklah Pak, saya sepakat!. Apa perintahnya Pak?"
Kemudian Pak Tua kebelakang mengambil seekor bebek peliharaannya, "nih, pelihara bebek ini di rumahmu!" perintahnya. "Bapak bercanda ya? Rumah saya kan sempit, kok malah ditambah memelihara bebek sih?" protes Saipul. "Lupa ya syarat kedua perjanjian kita? Jangan tanya dan protes! Lakukan! Datanglah 3 hari lagi kemari!" tegas Pak Tua. Dengan berat hati Saipul pun menjalankan perintah Pak Tua.
Tiga hari kemudian Saipul datang ke rumah Pak Tua, "Bagaimana nak?" tanya Pak Tua. "Sudah jelas, semakin terasa sempit." keluh Saipul. "Baiklah, sekarang perintah kedua, pelihara kambing ini juga dirumahmu" perintah Pak Tua sambil membawa kambing peliharaannya.. "Tapi Pak ........?", "Jangan tanya dan protes, lakukan saja! Datang kemari lagi setelah 3 hari" Pak Tua mengingatkan. Saipulpun kembali dengan membawa seekor kambing, dia menyesal karena melakukan kesepakatan dengan Pak Tua.
Tiga hari kemudian, Saipul datang kerumah Pak Tua. "Bagaimana?", dengan wajah cemberut Saipul berkata, "Bapak menyiksaku ya? Keluargaku jadi tidak betah dirumah!". "Sabar Nak, Baiklah bawa kemari lagi bebek dan kambingku! Kemudian datang kemari lagi setelah tiga hari."
Tiga hari kemudian, "Bagaimana Nak?" tanya Pak Tua, "Sekarang jadi tenang dan nyaman Pak, seolah-olah rumah saya jadi luas karena tidak ada gangguan bebek dan kambing.".
"Begitulah nak, saya menilai rumahmu itu sudah cukup luas, akan tetapi pandangan dan hatimu sungguhlah sempit. Hari ini kamu merasa rumahmu begitu luas, karena engkau merasakan bagaimana kondisi ketika rumahmu lebih sempit. Lihatlah tetangga-tetangga kita yang memiliki rumah yang jauh lebih sempit dari rumahmu. Dan cobalah bayangkan ketika kita dalam kondisi seperti mereka. Maka akan timbul rasa syukur dalam hatimu. Dan sebaliknya ketika engkau melihat tetangga kita yang rumahnya lebih luas daripada rumahmu, maka akan timbul rasa sempit dalam hatimu. Jadi, semua tergantung pada cara pandang kita. Maka, ubahlah segala pandanganmu menjadi pandangan syukur, maka rumah, dan hatimu akan terasa luas"
~~~
Sahabatku, saya jadi teringat ceramahnya Ustadz Zaenudin,MZ. Beliau bercerita (maaf agak di modifikasi), ada seorang pemuda yang sedang menggayuh sepeda tua berkata dalam hati "Alhamdulillah, walaupun saya tidak memiliki sepeda motor, saya masih memiliki sepeda ini, sedang tetangga saya masih berjalan kaki.",
Dilain tempat, tetangga yang berjalan kaki dalam hatinya berkata, "Alhamdulillah, saya masih bisa berjalan kaki, sedang tetanggasaya tidak memiliki kaki karena kecelakaan, jadi harus memakai kursi roda."
Dilain tempat, tetangga yang menggunakan kursi roda berkata dalam hati, "Syukurlah saya masih bisa berjalan walau menggunakan kursi roda, sedang tetangga saya, hanya bisa berbaring di tempat tidur karena lumpuh."
Dilain tempat, tetangga yang lumpuh berkata dalam hati, "Syukurlah saya masih bisa beribadah dan bertobat, sedang tetangga saya mati dalam keadaan bermaksiat kepada Tuhan"
Yakinlah sahabatku, ketika kita memandang segalanya dengan pandangan syukur, hidup ini akan terasa lebih nikmat dan indah.
~~~
Kepada sahabat-sahabatku se-bangsa, yang terkena ujian dari Tuhan dengan gempa... Bersabarlah.... kami merasakan deritamu, dan selalu mendoakanmu... semoga bisa menjadi cambuk kepada kami, yang jarang bersyukur atas segala nikmat-Mu....



0 komentar:

Posting Komentar

Postinglah dengan komentar yang bersifat "membangun".Thanks^^