Diabetes Makin Mengkhawatirkan

WHO, memperkirakan kenaikan jumlah penderita diabetes melitus (DM) di Indonesia. Keterbatasan informasi membuat para diabetesi baruberobat saat stadium lanjut atau komplikasi.

Saat ini diabetes diderita lebih dari 230 juta penduduk dunia dan diperkirakan meningkat hingga 350 juta pada 2025. Bahkan, setiap tahun ada enam juta penyandang diabetes baru di dunia. WHO juga memperkirakan ada kenaikan jumlah penderita DM atau diabetesidi Indonesia dari 8,4 juta pada 2000 menjadi 21,3 juta pada 2030.
Diabetes bukanlah penyakit sepele. Penyakit yang dikenal juga sebagai penyakit kencing manis ini dapat menimbulkan berbagai komplikasi fatal jika tidak segera mendapat penanganan yang tepat.
Di samping itu, risiko kematian penderita diabetes 4-5 kali lebih besar dibandingkan nondiabetik. Data menunjukkan, diabetesi yang meninggal akibat penyakit jantung mencapai 50 persen dan 30 persen akibat gagal ginjal.
Selain risiko kematian, diabetes juga menyebabkan penderitanya mengalami kecacatan. Sebesar 30 persen mengalami kebutaan akibat komplikasi retinopati dan 10 persen harus menjalani amputasi tungkai kaki.
Namun, jumlah penderita yang terus meningkat tidak dibarengi dengan peningkatan kesadaran mengenai bahaya di balik penyakit ini.Masih banyak ditemui pasien diabetes baru datang berobat saat keadaannya sudah menimbulkan komplikasi.Tidak bisa disalahkan sepenuhnya karena sebelumnya memang tidak merasakan sakit.
"Langkah pertama penatalaksanaan DM adalah edukasi atau pemberian informasi yang benar mengenai penyakit ini. Karena itu, komplikasi dapat berkurang dan kualitas hidup pasien meningkat," ujar Ketua Umum Persatuan Diabetes Indonesia Prof Dr Sidartawan Soegondo SpPD-KEMD FACE di sela-sela peluncuran Diabetes Center Point-Primary Care RS Husada di Jakarta, akhir pekan lalu.
Edukasi yang tepat bukan hanya dipahami oleh penderita, tapi juga keluarga. Peran keluarga seperti mengawasi diabetesi tekun meminum obat, ikut menjaga pola makan, dan mengingatkan untuk rajin kontrol ke dokter diperlukan dalam upaya penyembuhan si pasien.
Bukan hanya diabetesi, para calon penderita diabetes pun diharapkan mulai menyadari gejala penyakit ini. Akibat terbatasnya pemahaman, masyarakat awam sering kali tidak menyadari gejala diabetes, seperti banyak makan dan banyak minum.
Selain pemahaman pasien dan keluarga, perawatan diabetesi yang membutuhkan perawatan khusus penting diperhatikan. Sementara di Indonesia sendiri, rumah sakit yang menyediakan ruang perawatan khusus pasien diabetes masih sangat terbatas.
Pentingnya ruang perawatan khusus di suatu rumah sakit karena pasien diabetes harus tepat jam makan, porsi makan, pemberian suntik insulin, dan periksa gula darah.
Hal senada diungkapkan Head of Medical Department PT Merck dr Riza Anwar. Menurut dia,pemahaman yang tepat mengenai penyakit diabetes merupakan hal yang sangat penting.
Peningkatan jumlah diabetesi tidak hanya menyangkut masalah perubahan gaya hidup, seperti jenis makanan yang dikonsumsi dan kurang gerak. Namun, juga menyangkut edukasi, sistem, sarana pasien, dan orang yang mendampingi pasien.Kondisi yang terjadi, penderita diabetes sering mengobati penyakitnya sendiri dan melakukan pengobatan tidak tuntas.
"Sehingga masyarakat lebihawaretentang penyakit DM dan melakukan diagnosis dini. Begitu pula calon diabetesi untuk berani memeriksakan diri," tandasnya.
(Sindo Pagi/)


0 komentar:

Posting Komentar

Postinglah dengan komentar yang bersifat "membangun".Thanks^^